Agus Suryadi, SDN Rengasdengklok Utara 1, KARAWANG

Masih belajar menulis dan merangaki kata....

Selengkapnya
IBU MALANG DAN APEL AJAIB (DONGENG ANAK)

IBU MALANG DAN APEL AJAIB (DONGENG ANAK)

Di dalam rumah sederhana, terdengar suara isak tangis seorang ibu. Sepertinya sangat sedih sekali. Sementara anak lelaki satu-satunya terdengar amat marah.

“Sudah jangan menangis terus! pokoknya malam ini juga ibu harus pergi! aku sudah bosan melihat wajah ibu di rumah ... cepat! bereskan baju-baju ibu dan segera pergi, ingat ... jangan pernah kembali lagi!” suara pemuda yang terdegar marah dan penuh amarah.

“ Baiklah anakku, jika memang itu yang kamu inginkan, ibu akan pergi, tapi ... setega itukah engkau mengusir ibu? Aku adalah ibu yang telah melahirkan dan membesarkanmu, ibu yang telah mengasuh dan merawatmu, dan ibu yang terus menjagamu dari hujan dan terik matahari? Tidakkah engkau merasa iba dan kasihan melihat ibumu harus pergi dengan keadaan yang tidak sehat seperti ini? ... anakku sayang, ibu sedang sakit, ibu butuh istirahat, ibu butuh kau rawat ... di mana hati nuranimu?” si ibu terus berbicara diantara sela isak tangisnya.

“Sebab itulah aku mengusir ibu dari rumah ini, aku tidak mau jika ibu hanya akan menyusahkan, aku tidak mau ibu hanya akan menjadi beban hidup ... sudah! jangan banyak bicara, lebih baik ibu cepat pergi dari rumah ini!” si anak semakin marah dengan ucapan memelas si ibu.

“Anakku sayang, hanya karena itulah engkau mengusir aku? Sungguh hatimu tidak terpuji, tetapi jika memang itu keinginanmu ... baiklah, aku akan pergi. Tapi bagaimanapun dan apapun yang terjadi hari ini, engkau tetap anakku dan buah hatiku, aku akan tetap mendoakanmu baik siang maupun malam. Semoga engkau menjadi anak yang lebih bijaksana,” ucap si ibu. Air matanya terus menetes.

“Sudah ... sudah ... apapun yang engkau katakan tidak akan mengubah keputusanku ... cepat pergi!” ucap si anak tanpa ada belas kasihan sedikitpun.

Ibu yang malang, dengan kondisi badan yang tidak sehat harus menerima amarah anaknya yang durhaka, mengusirnya dari rumah yang sudah lama ia tinggali. Setelah ia membereskan pakaian. Tidak lupa si ibu membawa sedikit bekal makanan yang mungkin hanya cukup untuk esok hari saja.

“Ya Tuhan, berikanlah aku kesabaran menghadapi cobaan-Mu ... maafkan lah anakku yang mungkin sedang khilaf dan diselimuti amarah,” masih dengan suara yang terisak.

Malam itu juga si ibu yang malang meninggalkan rumahnya. Tak tahu harus ke mana ia harus melangkahkan kaki, hatinya begitu remuk. Sama sekali ia tak menyaka jika anak yang sangat ia cintai tega menyakiti hati dan mengusir dari rumah hanya karena ia mulai sakit-sakitan. Bukankah seharusnya ia mendapat perhatian yang lebih dari anak lelaki semata wayangnya, setelah suami tercintanya meninggal dunia setahun yang lalu.

Si ibu malang terus berjalan, tertatih ia melangkahkan kaki,di pundaknya ada buntalan dari kain kusam yang berisi pakaian dan ada pula makanan alakadarnya, sekedar untuk mengganjal perutnya jika ia merasa lapar di tengah perjanan nanti. Perjalanan yang entah di mana ujungnya ... ia tidak tahu, malam ini hanya kakinya saja yang melangkah sedangkan hatinya teramat gelisah.

Tak terasa semburat cahaya jingga mulai bercahaya, ternyata pagi sudah mulai menyapa, digubuk tua pinggir ladang pesawahan, terlihat ibu malang sedang tertidur lelap. Ia terlihat sangat lelah, wajah tuanya dihiasi oleh keriput dan rambutnya sudah hampir memutih semua.

“Wah ... sudah siang, dimana aku ini? Oh ... badanku terasa sakit semua ... apakah ini karena perjalanan aku semalam tadi? Eeehhhhhmm ... berapa jauhkah aku sudah meninggalkan rumah dan anakkku?” ibu malang terbangun dalam tidurnya.

“Perutku lapar sekali, aku rasa ada makanan dalam buntalanku ada baiknya aku makan dulu sebelum melanjutkan perjalananku yang entah sampai kapan akhirnya” ucapnya dalam hati

Ibu malang membuka bekal dan makan dengan lahapnya. Tak sedikitpun makanan tersisa, karena makanan yang ia bawa memanglah tidak seberapa. Setelah selesai makan, ibu malangpun melanjutkan perjalanan.

Setelah hampir seharian berjalan, tibalah ibu yang malang disebuah kampung yang tidaklah terlalu padat penduduknya, ia terus berjalan memasuki kampung. Dicarinya tempat berteduh untuk sekedar menghindari sengatan sinar matahari yang lumayan menyengat siang itu. Ibu malang berpikir selain untuk beristirahat ia pun ingin mengisi perutnya yang memang sudah merasa lapar. Setelah menemukan tempat berteduh ia pun merebahkan badannya. Tak lama kemudian ibu malang duduk dan mulai membuka sisa bekalnya, dan yang tersisa hanyalah air. Tak ada yang lain.

“Ah ... hanya ada air saja, tapi tidak apalah ... ini cukup untuk melepas rasa hausku,” ibu yang malang meneguk air yang tersisa.

“Ada yang aneh aku rasa, kampung ini sepertinya sepi sekali? Apakah ini kampung tak berpenghuni?Atau ini kampung siluman?” gumannya dalam hati, matanya terus mencari-cari. Ia benar-benar merasa aneh.

Tak berapa lama, ibu yang malang melihat seorang pemuda yang lewat di depan gubuk tempat ia beristirahat. Pemuda itu berjalan seperti setengah berlari.

“Maaf anak muda? Bolehkah ibu bertanya?” tanya si ibu

“Ada apa bu? Maaf aku sedang terburu-buru” jawab anak muda itu, sejenak ia menghentikan langkah kakinya.

“Maaf, aku telah mengganggu perjalananmu, tetapi kemanakah perginya penduduk kampung ini? Apakah ini memang kampung yang tak berpenghuni?” tanya si ibu malang lagi.

“Oh ... apakah ibu tidak tahu Jika hari ini seluruh penduduk kampung sedang berkumpul di pinggir hutan?” jawab si pemuda, nafasnya masih tersengal

“Di pinggir hutan? Memangnya ada apa mereka berkumpul di pinggir hutan?” si ibu malang terus bertanya.

“Hari ini kerajaan sedang mengadakan sayembara, bu, sayembara memanjat pohon apel emas,” jawab si pemuda lagi’

“Maaf jika aku banyak bertanya anak muda, untuk apakah apel emas itu?” ibu malang semakin penasaran.

“Barang siapa yang bisa memanjat dan mengambil apel emas dan membawanya kepada Raja, maka dia akan mendapat hadiah yang sangat banyak ... apapun yang diminta oleh pemenang sayembara pasti akan dikabulkan, asal ibu tahu, apel emas akan diberikan kepada Putra Mahkota yang sedang sakit parah, dan hanya apel emas itulah dapat menyembuhkan semua penyakit, termasuk untuk menyembuhkan sakit sang Putra Mahkota, sudah ya bu, aku mau berangkat dulu menuju pinggir hutan,” pemuda itupun berlalu.

“Wah ... ada sayembara mengambil apel emas? Untuk menyembuhkan segala penyakit? Bukankah aku juga sedang sakit?” ucapnya dalam hati.

Ibu malang beranjak dari tempat istirahatnya, samar-samar ia melihat langkah si pemuda, ia mengikuti langkah si pemuda ... berjalan dan terus berjalan, langkahnya terseok-seok. Terdengar dari kejauhan suara sorak-sorai para penduduk, langkah ibu malang terus menuntunnya kearah sayembara. Tiba ditempat sayembara, ibu malang melihat orang-orang bergantian memanjat pohon apel emas, tapi aneh ... semakin pohon apel itu di panjat, pohon apel malah semakin tinggi, di panjat lagi malah semakin tinggi lagi. Hanya ada dua buah apel di atas pohon itu, apel berwarna keemasan.

“Wah, mana mungkin aku bisa ikut sayembara? jangankan untuk memanjat pohon apel emas, untuk berjalan saja aku butuh tenaga yang tidak sedikit, duh Dewata yang baik hati, aku sangat ingin ikut sayembara ini,” lirihnya dalam hati.

Hari semakin beranjak sore, para penduduk mulai meninggalkan pohon apel emas, tak satupun dari mereka dapat memanjat lebih tinggi untuk mengambil buah apel emas. Padahal pohon apel itu tidaklah begitu tinggi, tetapi semakin dipanjat maka pohon apel itu akan semakin meninggi ... meninggi dan semakin tinggi. Itulah yang membuat tak satupun penduduk yang ikut sayembara mampu memetik buah apel emas.

Ibu malang berjalan mendekati pohon apel emas, setelah sampai di bawah pohon apel emas, Ia merasakan kesejukan yang luar biasa, ada sesuatu yang tidak biasa yang ia rasakan. Ibu yang malang lalu duduk dibawah pohon apel emas, nafasnya terdengar sangat berat. Ia memang sedang sakit, ditambah dengan perjalanan yang telah ia tempuh lumayan jauh. Matanya menerawang, disekelilingnya sudah sepi. Hanya angin dan hamparan rumput yang ia lihat, di belakang ia lihat hutan yang lebat. Ada rasa takut dihatinya.

“Wahai pohon apel emas yang berdaun teduh, maukah kamu mendengarkan ceritaku? Mumpung tidak ada siapapun disekelilingku. Wahai pohon apel emas yang berhati baik, aku adalah seorang ibu yang sangat bahagia. Aku punya anak lelaki yang sangat tampan dan baik, tapi saat ini hatinya sedang gundah dan ia marah padaku, tapi aku yakin dia adalah anak yang sangat baik, aku tidak pernah benci dengan sikapnya. Aku tetap akan mencintai dia sebagai buah hati yang paling terkasih. Wahai pohon apel yang berbuah manis dan berwarna cemerlang, aku tahu engkau adalah buah yang paling bijaksana, aku tahu engkau di ciptakan sebagai buah kebajikan dan ketulusan, seperti nama yang kau sanding ... Apel Emas. Wahai apel emas, pujaan para Dewata, jika engkau berhati mulia, jatuhkanlah buah kebaikanmu dipangkuanku, akan kujadikan engkau sebagai penawar sakit dan pengobat lara sang Putra Raja, itupun jika engkau bersedia wahai Pohon apel berbuah ranum,” ibu malang terus berbicara pada pohon apel.

Tiba-tiba ... PLUK! ... PLUK! ... buah apel emas jatuh dipangkuan si ibu malang, bukan hanya satu apel, tapi dua buah apel yang jatuh dipangkuan si ibu malang.

“Wah! ... terima kasih pohon emas yang berhati emas, engkau telah menjatuhkan buahmu bukan hanya satu, tapi dua ... engkau memang pohon apel yang sangat bijaksana ... aku sungguh tidak menyangka jika engkau mempercayaiku untuk mendapatkan buahmu, aku berjanji akan mempersembahkan apel emas ini untuk sang Putra Mahkota ... sekali lagi terima kasih,” suara si ibu malang terdengar sangat bahagia.

Hari mulai beranjak malam, bergegas si ibu meninggalkan pohon apel emas, belum sepuluh langkah meninggalkan pohon apel, ia mendengar suara yang berbisik, nyaris seperti gesekan daun-daun apel yang tertiup angin.

“Wahai ibu malang yang berhati sabar dan penyayang, aku izinkan engkau memakan satu buah apel emas dari pohonku, aku ingin engkau sehat kembali seperti sediakala ... aku bangga dengan rasa tulusmu dan rasa kasihmu ... makanlah satu buahku, dan berikanlah satu buah apel emasku untuk sang Purta Mahkota,” lalu suara itu hilang.

“Benarkah apa yang aku dengar? Aku boleh memakan satu buah apel emas ini? Oh ... terima kasih pohon apel,” terlihat wajah bahagia dari wajah si ibu malang.

Dimakannya satu buah apel yang sudah ia simpan genggammannya. Hap! ... krauk ... krauk... dan tidak lama kemudian keajaiban terjadi, si ibu malang merasa badannya lebih bugar, malah lebih bugar dari biasanya ... bukan hanya itu, kulitnya tidak keriput dan rambutnya tidak beruban lagi. Si ibu malang terlihat lebih muda dan sehat.

“Ah! ... apa yang terjadi denganku? Terima kasih Dewata, engkau telah memberikan kesembuhan padaku lewat perantara buah apel emas, sekarang aku lebih bertenaga dan lebih sehat, dengan keadaanku sekarang tentu saja akan lebih cepat sampai ke Kerajaan untuk memberikan buah Apel Emas ini” tak henti-hentinya rasa syukur keluar dari mulut si ibu malang

Ternyata, pohon apel emas lebih mempercayai ibu malang untuk mendapatkan buahnya, ia benar-benar tulus ingin menyembuhkan Putra Mahkota. Sedangkan pendududk desa hanya tergiur dengan banyaknya hadiah dari sang Raja untuk mendapatkan apel emas dari pada ketulusan membantu penyembuhan sang Putra Mahkota. Itulah sebabnya, ia tidak mau buahnya jatuh kepada tangan penduduk.

Si ibu malang telah sampai di dalam Istana Kerajaan, dengan diantar Pengawal untuk menemui Raja dan mengungkapkan maksudnya datang kedalam Istana. Diserahkan buah apel emas kepada sang Raja, dan sang Raja-pun sungguh amat bahagia. Apel emas yang selama ini dipercaya sebagai satu-satunya obat penyembuh sakit sang Putra Mahkota telah ada ditangannya. Segera ia membawanya ke kamar Putra Mahkota, diikuti si ibu malang.

“Wahai Putra Mahkota, Ayahnda membawakan Ananda Buah Apel emas untuk menyembuhkan rasa sakitmu, makanlah, Ayahnda berharap ada keajaiban setelah Ananda memakan buah Apel Emas ini,” Suara sang Raja terdengar lembut dan sabar.

Dibelahnya apel emas itu dan diberikannya kepada sang Putra Mahkota. Tidak berapa lama keajaiban terjadi, sama halnya dengan keajaiban yang terjadi kepada si ibu malang. Putra Mahkota sembuh. Badannya sehat dan bugar kembali. Tak ada bekas tanda-tanda sakit yang pernah dialami Putra Mahkota. Tentu saja kejadian ini membuat hati sang Raja sangat bahagia.

“Putraku sudah sembuh, dan aku sangat gembira ... dan kau wahai ibu pembawa apel emas, seperti janjiku yang telah aku ucapkan, apapun yang engkau inginkan aku pasti akan mengabulkan permintaamu,” ucap sang Raja dengan senyum bahagia. Matanya melirik kepada ibu malang.

“Wahai Raja yang baik hati, aku tidak ingin hadiah apapun dari kesembuhan sang Putra Mahkota, aku sangat bahagia dengan kesembuhannya, ketika aku mendengar sang Putra Mahkota sakit, sungguh hatikupun ikut sakit, aku teringat akan anakku yang sangat aku sayangi,” jawab si ibu.

“Lalu ... apa hadiah yang kau inginkan dariku wahai ibu yang berhati baik?” tanya sang Raja lagi.

“Aku tidak menginginkan hadiah apapun dari Raja yang bijaksana, aku hanya ingin berpesan kepada Sang Putra Mahkota, sayangilah kedua orang tuamu, karena kasih sayang mereka tidak akan dapat kau beli dengan apapun, sakit yang kau rasakan adalah gelisah orang tuamu, dan sehat yang kau rasakan adalah bahagia bagi orang tuamu, tak ada gunung yang dapat kau tukar dengan rasa sayang orang tuamu,” mata ibu tua berkaca-kaca.

Dalam perjalanan pulang, Ia ingat anak yang telah menyakitinya, mengusirnya. Tetapi sedikitpun ia tidak sakit hati. Rasa sabar terus tumbuh dihatinya. Ibu tua terus berjalan, dibelakang ada prajurit yang mengawal yang mengiringi, badannya sekarang sudah sehat dan bugar. Dan ia akan pulang, menemui anak tercinta, di matanya telah menumpuk sinar kasih sayang yang akan ia curahkan kembali kepada anaknya. Walaupun ia tahu, ia telah disakiti.

Sesampainya di rumah, ia melihat anaknya berdiri di depan rumah.pemuda itu memandang kearah rombongan kerajaan. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ibu yang selama ini telah ia sakiti telah sehat dan bugar, sungguh ia tidak menyangka. Padahal, sepeninggal ibunya, ia benar-benar menyesal telah mengusirnya. Anak muda itu berlari, dan bersimpuh di kaki sang ibu. Terdengar suaranya yang lirih.

“Maafkan aku, bu, aku adalah anak yang durhaka dan tidak tahu berterima kasih,” Ucapnya dengan beruarai air mata.

“Sudah anakku, bangunlah ... aku sudah memaafkan semua salahmu, aku tidak pernah dendam kepadamu, tak ada ibu yang bisa membenci anaknya sendiri. Ketahuilah, kasih seorang ibu tidak dapat dibeli oleh apapun, bahkan oleh besarnya gunung dan luasnya samudra sekalipun,” ibu itu mengusap kepala anaknya.

Keduanya berpelukan, kasih sayang dan kesabaran seorang ibu tidak akan pernah habisnya.

=selesai=

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali