Agus Suryadi, SDN Rengasdengklok Utara 1, KARAWANG

Masih belajar menulis dan merangaki kata....

Selengkapnya
KARIKATUR UNTUK BAPAK

KARIKATUR UNTUK BAPAK

KARIKATUR UNTUK BAPAK

Setelah keluar dari ruang perpustakaan untuk menemui Pak Yunanto, aku bergegas menuju tempat pemuatan Majalah Dinding. Sekolah cukup sepi karena waktu sudah menunjukan pukul tiga sore. Bergegas aku membuka kaca tempat majalah dinding di pasang. Kaca yang berukuran satu setengah kali tiga meter itu cukup memajang beberapa lembar kertas karton, hanya butuh satu tempat seukuran karton untuk menempelkan gambar kartun yang telah aku buat seharian kemarin. Tidak ada masalah untuk memasang gambar atau berita seputar kegiatan sekolah, karena kebetulan aku adalah pengurus OSIS yang membidangi Seni dan segala macam bentuk kreatifitas siswa, termasuk majalah dinding.

Gambar sudah terpasang. Tinggal memastikan jika apa yang telah aku buat sedemikian rupa ini, bisa menarik siapa saja untuk melihat dan mengartikan sendiri apa yang tersirat dari gambar tesebut. Yang pasti, aku tidak pernah menyebut nama dalam gambar kartun itu. Hanya ada inisial namaku saja di pojok bawah “GOES-SOER-IPS2”

Hari ini aku berangkat agak pagi ke sekolah. Tempat yang aku tuju setelah tiba di sekolah adalah adalah perpustakaan. Ya, perpustakaan tempat yang strategis untuk melihat dengan jelas letak majalah dinding. Hanya ingin melihat ekspresi orang-orang yang melihat gambarku. Walau ini bukanlah gambar pertama yang aku buat, ini adalah gambar ketiga, gambar pamungkas yang aku buat, karena aku merasa jika gambar-gambar sebelumnya tidak mendapat respon dari pihak sekolah.

Ya! Aku sedang melawan ketidak eresan yang ada di sekolah ini dengan cara membuat gambar karikatur.

Sejujurnya aku sangat mencintai sekolah ini, tapi di sisi lain, ada oknum guru yang membuat sekolah ini menjadi tidak nyaman untuk tempat belajar!

Oknum guru yang selalu menilai apapun dengan uang. Aku benci itu. Tak ada siswa yang berani protes. Termasuk aku. Jujur, aku takut jika diberhentikan dari sekolah ini. sekolah favorit banyak siswa.

Gambar pertama, seorang siswa yang berpakaian seragam compang-camping yang menjadi penakut burung di sawah. Yang aku artikan jika siswa hanya menjadi ladang usaha, tidak mendapat respon dari pihak sekolah. Gambar kedua yang aku buat adalah gambar telur busuk yang dikelilingi lalat. Yang aku artikan sekolah sudah nyaman lagi, ada oknum penyebar penyakit. Juga tidak mendapat respon. Dan yang sekarang aku buat adalah, gambar telinga lebar, masuk bla .. bal ... bla .. dan keluar adalah do .. re .. mi .. fa ... di mana suara siswa hanya dianggap angin lalu saja.

Aku mengamati dari balik jendela perpustakaan. Beberapa guru berehenti di depan majalah dinding, saling berbisik dan berlalu begitu saja. Begitupun dengan teman-temanku.

“Hei! Lagi ngapain?” tiba-tiba saja Doni sudah berdiri dibelakangku.

Aku terperanjat. Jujur, aku benar-benar kaget dengan kedatangan Doni yang tiba-tiba saja.

“Ih, bikin kaget aja,” aku melirik ke arah Doni.

“Lagi ngintip, ya?” tanya Doni sambil tersenyum. Matanya mencari-cari ke luar jendela.

“Apaan sih? Aku lagi iseng aja. Udah ah, kita ke kelas yu,” tanganku menarik tangan Doni.

Bergegas kami menuju kelas. Waktu memang sudah menunjukan pukul tujuh lebih limabelas menit. Saatnya pelajaran dimulai.

Seolah tidak terjadi apa-apa, aku masuk ke dalam kelas.

”Tumben jam segini belum ada guru yang masuk kelas,” tanya Ning, teman sebangkuku.

“Tadi aku sudah ke kantor, jemput Bu Suci, tapi katanya tunggu sebentar. Ada rapat mendadak. Gak tau rapat apaan. Mudah-mudahan aja bisa pulang lebih cepet .. ha ... ha .. ha ....” Adam tertawa lebar.

“Dih, maunya!” mata Ning melirik tajam ke arah Adam.

“Katanyamah lagi ngebahas majalah dinding yang ada gambar kartunnya. Tuh, gambar buatan ketua kelas kita,” Adam tertawa lagi. Matanya tepat mengarah ke arahku.

Aku tersenyum. “Memangnya kenapa dengan gambarku,” aku menatap ke arah adam sambil tersenyum.

Aku benar-benar kaget dengan ucapan Adam.

“Dam, kamu tau dari mana kalo rapat itu membahas tentang gambar di majalah dinding sekolah,” aku bertanya ke Adam. Keringat dingin mulai keluar dari dahi.

Tadi aku tanya sama Mang Musa, katanya gitu.

Huff ... aku menghela nafas panjang. Jantungku berdetak lebih cepat.

“Duh Gusti, sepertinya hari ini adalah hari terakhir aku duduk di kelas ini.” aku menutup mata rapat. Ada cemas yang menyelimuti rongga dada.

Aku yang pada awalnya benar-benar berani dan menantang dengan ketidaknyamanan di sekolah. Aku yang terkenal dengan kritik-kritiknya lewat majalah dinding, ternyata ciut juga jika satu sekolah harus melakukan rapat untuk membicarakan tentang gambar di majalah dinding. Aku pengecut? Bisa jadi!

Aku gelisah untuk saat ini.

Tapi. Apapun yang terjadi, aku tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatanku.

“Assalamualaikum,” tiba-tiba saja suara berat yang tiba-tiba saja terdengar dari pintu kelas, menghentikan suasana gaduh di dalam kelas IPS 2.

Semua mata memandang ke arah pintu.

“Waalaikum sallam ...” serentak kami membalas salam. Lalu berhamburan menuju kursinya masing-masing.

Seketika kelas menjadi hening.

Semua mata memandang ke depan kelas setelah sosok tinggi besar dan sangat kami takuti karena ketegasan dan disiplinnya, yang kami segani karena jabatannya berdiri tepat di depan kami. Tidak ada yang berani berbicara. Termasuk aku yang hanya bisa terdiam.

Tatapannya menyapu seisi kelas, lalu hinggap di bola mataku.

Aku tersenyum. Kecut.

“Kenapa, Gus?”

“Tidak kenapa-kenapa, Pak,”

“Hmmm ...”

Bapak yang aku sebut sebagai Kepala Sekolah menarik nafas panjang. Lalu membuka pembicaraan.

“Mengenai gambar yang ada di bingkai majalah dinding. Katanya itu buatan anak IPS2, benar begitu?”

Sontak aku menjawab. “Bukan,Pa. Itu bukan buatan IPS2. Tapi buatan saya pribadi yang kebetulan anak IPS2,” aku memberanikan bicara.

“Itu ditujukan untuk siapa,” tanyanya lagi.

“Tidak saya tujukan untuk siapa-siapa, Pak. Saya membuat gambar itu hanya untuk orang yang merasa saja,” aku berusaha menjawab.

“Untungnya, Bapak tidak merasa menjadi bagian dari gambar itu. Bapak ama sekali tidak marah.”

Ada desir yang melembutkan di antara darah yang mengalir cepat. Aku lega dengan ucapan itu.

Bapak bangga dengan apa yang telah teman kamu lakukan. Baru kali ini bapak menemukan anak yang berani mengkritik kebijakan sekolah yang dianggapnya tidak berpihak. Bukan berarti bapak tidak mengikuti dan merespon gambar-gambar yang sebelumnya telah dipasang di majalah dinding. Tai bapak harus mencari fakta dan kebenaran dari apa yang dikeluhkan para siswa. Dan gambar terakhir, telinga yang seolah-olah tuli dan mengganggap angin lalu dengan keluhan para siswa, benar-benar membuat bapak berpikir, sudah saatnya untuk menindaklanjuti da mengevaluasi. Terlebih, masukan dari Pak Yunan selaku pembina OSIS. Bapak sudah mendengar banyak cerita tentang keluhan para siswa. Termasuk darimu, Gus,” kembali tatapannya menuju padaku.

Aku sedikit tersenyum.

Ketakutan yang tadi bergelayut, perlahan menciut kembali. Ada lega yang mengisi rongga dada.

“Satu pesan bapak. Jika ada hal apapun yang menurut kalian kurang nyaman tentang sekolah ini, silahkan kalian sampaikan. Bapak terbuka untuk hal apapun. Seperti halnya yang dilakukan oleh temanmu. Kreatif!”

kepala sekolah menghampiri, lalu menepuk pundakku.

Tepuk tangan mengisi ruang kelas.

Di balik jendela kelas, Pak Yunanto mengedipkan matanya.

Agus Suryadi, S.Pd. SD

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali