Agus Suryadi, SDN Rengasdengklok Utara 1, KARAWANG

Masih belajar menulis dan merangaki kata....

Selengkapnya
RAJA YANG SADAR (DONGENG ANAK)

RAJA YANG SADAR (DONGENG ANAK)

RAJA YANG SADAR

Kerajaan Narutug dipimpin oleh seorang Raja yang sangat gagah berani. Kegagahan dan keberaniannya sangat dikenal seantero Negeri. Tak ada yang sanggup mengalahkan kekuatannya. Semua tunduk dan patuh akan perintahnya. Ia sangat berkuasa. Karena itulah hampir seluruh keluarga kerajaan, baik abdi dalem, Ponggawa maupun rakyat sangat patuh dan takut kepada Raja.

Kekayaan sang Raja sangat berlimpah. Ia takut jika suatu hari ada seseorang yang merampas kekuasaanya. Tetapi ia sangat percaya akan kekuatan dan kehebatannya. Karena kehebatannya itulah Raja menjadi sombong.

“Tak ada yang dapat menandingi kekuatanku di Dunia ini,” kata raja dalam hatinya.

Hingga suatu saat Raja jatuh sakit. Sudah beberapa hari Raja tidak bisa bangun dari tidurnya. Raja benar-benar merasa sakit. Lalu Raja memanggil orang kepercayaan istana.

“Wahai ponggawaku. Aku sedang sakit. Tolong carikan aku tabib yang paling hebat yang dapat menyembuhkan sakitku,” kata Raja.

“Baiklah paduka Raja. Akan aku carikan tabib paling hebat yang akan menyembuhkan sakit paduka Raja” kata ponggawa. Badannya setengah menunduk tanda hormat.

“Bagi siapa saja yang dapat menyembuhkan sakitku, maka ia akan mendapat hadiah yang sangat istimewa,” kata sang Raja.

Lalu ponggawa mengumpulkan para tabib dari seluruh negeri untuk mengobati Raja. Tapi tak satupun yang dapat mengobati sakit sang Raja.

“Sebenarnya aku ini sakit apa? hingga tak satu tabibpun yang dapat menyembuhakan aku?” kata sang Raja dalam hatinya.

Raja memerintahkan ponggawa untuk mengumpulkan rakyatnya. Raja ingin ponggawa istana mengumumkan sayembara untuk kesembuhan sang Raja. Dengan hadiah yang sudah dijanjikan.

Berkumpullah masyarakat di lapangan. Mereka ingin ikut sayembara yang diadakan sang Raja.

Satu-persatu mereka memasuki kamar sang Raja. Tapi hingga berhari-hari sayembara dilakanakan, tak satupun yang dapat menyembuhkan penyakit sang Raja. Raja benar-benar merasa putus asa.

Hingga suatu hari, datanglah seorang nenek tua menghadap sang Ponggawa. Nenek tua itu meminta izin kepada Ponggawa untuk memasuki Istana.

“Mau apa kau nenek tua?” tanya sang Ponggawa kepada nenek tua.

“Wahai Ponggawa yang gagah berani, izin kan aku masuk ke Istana. Aku ingin ikut sayembara untuk menyembuhkan sang Raja” kata nenek tua.

“Baiklah, Nek. Sebentar, aku masuk dulu ke Istana untuk meminta izin kepada Raja” kata Ponggawa. Lalu masuk ke dalam Istana.

“Paduka Raja, ada nenek tua yang ingin mencoba menyembuhkan sakit paduka Raja. apakah Paduka mengizinkannya?” tanya Ponggawa.

“ Nenek tua? Hmmm ...baiklah, suruh dia masuk” kata sang Raja.

Ponggawa keluar kamar untuk menemui nenek tua.

“Nenek tua? Bisa apa dia? ... Kalaupun dia dapat menyembuhkan sakitku, tentu saja aku tidak sudi memberikan hadiah yang banyak untuknya. Enak saja ...” kata sang Raja dalam hatinya.

Sang Raja tetap berbaring di atas tempat tidurnya ketika nenek tua itu masuk.

“Hai nenek tua, obat apa yang dapat kau berikan untuk menyembuhkan sakitku?” kata sang Raja. Matanya menatap tajam ke arah nenek tua.

“Ampun paduka Raja. izinkan hamba berbicara dan bertanya. Saat ini, bagian mana yang paduka raja rasa paling sakit?” tanya nenek tua.

Raja mengernyitkan dahinya, ia merasa aneh dengan pertanyaan nenek tua itu.

“Tentu saja aku merasa sakit di sekujur tubuhku, karena itulah aku tidak bisa bangun dari tidurku” kata sang Raja.

“Kalau begitu izinkan aku mengobati hatimu,” kata nenek tua.

“Apa? Mengobati hatiku? Apa maksudmu nenek tua?” tanya Raja penuh keheranan.

“Penyakitmu bersumber dari hati. Paduka terlalu merasa hebat dan merasa paling kuat. Hati paduka menjadi sekuat batu karena di tutupi kesombongan. Paduka selalu berfikir sangat keras siang dan malam karena paduka takut jika ada yang merebut kekuasaan paduka. Paduka lupa makan dan istirahat karena takut kekayaan paduka ada yang mengambil dan menguasai. Karena itulah paduka jatuh sakit,” kata nenek tua.

“Benarkah begitu nenek hai nenek tua?” tanya sang Raja.

“Ya ... itu yang dapat hamba sampaikan sebagai obat penyembuh sakit paduka Raja,” kata nenek tua.

“Hanya itu saja? Tak ada yang lain? “ tanya sang Raja lagi.

“Ada paduka. Hamba hanya ingin menyampaikan bahwa kekuasaan yang paduka punya tidaklah sebanding dengan kekuasaan yang di miliki sang pencipta. Kesombongan yang paduka miliki hanya akan membuat paduka menderita. Ingat paduka, kehebatan bukan untuk dipamerkan dan kekuasaan harusnya dijadikan sebagai perlindungan,” kata nenek tua itu panjang lebar.

Raja hanya terdiam. Ia benar-benar merasa malu dengan perbuatannya. Selama ini ia menganggap bahwa dirinyalah yang paling berkuasa dan paling kuat. Hampir tiap setiap saat ia memikirkan kekusaan dan kekayaannya.

Ia takut semuanya akan hilang dan tidak lagi menjadi miliknya. Raja benar-benar merasa sadar akan perbuatannya.

“Ya aku mengakui semuanya. Aku memang telah merasa sombong dengan kekuatan dan kekuasaan. Aku merasa bersalah. Maafkan aku,” kata sang Raja.

“Tak perlu kau meminta maaf padaku, mintalah maaf kepada dirimu sendiri yang telah kau paksa mengikuti kemauanmu yang memang tidak seharusnya,” kata nenek tua.

Nenek tua itu memandang wajah sang Raja. Dilihatnya raut penyesalan yang sangat dalam. Raja teringat akan kesombongannya. Kesombongan yang telah membuat ia jatuh sakit. Sakit karena takut kehilangan harta dan kekuasaan.

“Terima kasih, Nek, kau telah memberikan obat yang paling manjur untukku. Kata-katamu benar-benar menyadarkanku,” kata sang Raja.

“Baiklah, aku pamit pulang. Tak usahlah kau memberikan hadiah yang berlimpah untukku. Karena aku tahu kau akan mengingkarinya ... “ kata nenek tua. Bibirnya tersenyum.

Raja kaget dengan ucapan nenek tua. Nenek tua dapat membaca niat jahat sang Raja.

“Si... siapakah sebenarnya dirimu wahai nenek tua?” tanya Raja dengan wajah sangat keheranan.

“kau ingin tahu siapa aku?, aku di utus dewata untuk menyadarkan kesombonganmu” kata nenek tua itu.

Tiba-tiba nenek tua itu menghilang. Hanya hembusan angin dan balutan asap putih yang lama-lama menghilang ditiup angin.

Kamar sang Raja sepi.

Raja menyendiri dalam kamarnya. Ia merasa bersalah akan kesombongannya yang membuat ia malah menderita dan jatuh sakit. Apalah artinya kekuasaan, harta, dan kekuatan jika tidak di gunakan untuk kebaikan.

kerajaan Narutug kini dipimpin oleh raja yang bukan hanya kuat dan hebat. Tetapi Raja Narutug juga mempunyai Raja yang sangat bijaksana dan dermawan. Kerajaan Narutug semakin disegani di seantero negeri.

16-02-15

=selesai=

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

haturnuhun, Kang Ayo Sugiryo. sekarangmah sudah banyak film kartun dari luar negeri, anak-anak jadi lupa dongeng seperti ini ... terimakasih sudah mampir di lapak saya, salam kenal dari kota Rengasdengklok, Karawang ...

08 Oct
Balas

Wah..kangen dongeng seperti ini Pak. Sarat pesan moral. Mantap.

06 Oct
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali